Minggu, 31 Oktober 2021

Tahun Terakhir Di Masa Putih Abu-Abu

Hujan-hujan gini, laper tapi gak mood keluar kamar, tengah malam dan pikiranku mulai melayang ke masa lalu. So, jadilah tulisan ini😁

Menjelang UN kami seluruh kelas 12 diberi minggu tenang hampir seminggu, kalo gak salah ya.. hehe aku lupa. Waktu itu aku gak terlalu merasa ada beban malah aku santai banget tapi aku tetap belajar kok. Aku buka kembali buku-buku LKS dari kelas 10, aku coba pelajari lagi terutama di mapel matematika. yeah, karena aku tolol kalo soal2 hitung2an, kecuali ngitung duitπŸ˜­πŸ˜‚

Aku heran dan.... kok bisa ya? Biasanya kan anak-anak SMA kalau udah hampir di ujung perjalanan putih abu-abunya pasti mereka sibuk daftar SBMPTN atau SNMPTN. Atau akunya yang kurang memperhatikan waktu itu karena dikelasku adem ayem gak ada yang bahas soal itu. Tapi.. ya sudahlah dari pengamatanku waktu baru-baru lulus SMA cuma beberapa orang aja yang lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 

Aku punya geng waktu SMA, isinya ada 6 orang. Aku bilang "geng" karena kita sering berenam dari kelas 10. Entah kenapa pas udah kelas 12 aku merasa geng kami mulai berjarak gak kaya waktu tahun pertama dan kedua. Aku sih "ya udahlah."

Singkat cerita bersamaan dengan tahun terakhirku di SMA, waktu itu sedang hits banget film remaja SMA "Dilan 1990". Kala itu, aku pengen banget ada yang ajak aku nonton ke bioskop. Tapi gak ada yang ajak hahahahaa.

Di tahun itu juga aku mengalami yang namanya insecure+anxiety. Jujur ini aku simpen rapat-rapat tentang kondisiku dari temen-temenku.

Aku mendadak suka diam tanpa sebab, ngelamun, kadang suka awkward sendiri kalau lagi ngumpul. Mungkin ini kali ya makanya mereka jadi kaya menjauh gitu dari aku, sebenarnya bukan menjauh sih tapi lebih kaya "Ini si Fitri kenapa sih?"

Aku juga bingung, aku juga pernah di bully sama salah satu cowok dikelasku sampe nangis juga waktu itu. Mereka bilang dia bercanda tapi tetap aja konteksnya membully. Temen-temenku ingat gak ya soal ini?

Pernah juga aku mendadak gak mau ikut foto bareng sama temen-temenku yang aku bilang "kami selalu berenam" tadi. Mereka ajak aku foto bersama, kebetulan waktu itu pakai baju jurusan kalau tiap hari kamis, entah kenapa aku merasa insecure berat sama mereka. 

Di kepalaku selalu lengket ama kalimat "Mereka cantik, sedangkan aku engga secantik dan sekeren mereka". Salah satu temenku marah gara-gara aku gak mau diajak foto. Aku yakin banget, mereka kala itu mikir kalo aku ini rese banget jadi orang. Perasaan cemas dan insecure aku saat itu menjadikan diriku kayak "Ini bukan fitri". 

Sedih banget sebenarnya, kok aku jadi gini ya? 

 Kembali lagi saat menjelang UN, aku mau berusaha menjadi diriku yang baru lagi. Aku mau mengembalikan "Fitri yang cerah" kaya waktu kelas 10 sama kelas 11. Karena UN sebentar lagi aku harus melepas semua beban dipikiranku dan aku bongkar lagi lemari bukuku.

Inilah caraku mengembalikan diriku yang dulu, aku bertekad ingin keluar dari SMA dengan membawa kebanggaan untuk diriku sendiri. Alhamdulillah, Allah kasih hadiah, aku mendapat nilai UN tertinggi urutan ke 5 waktu itu dan dapat beasiswa untuk lanjut kuliah ke salah satu kampus swasta dikotaku. Selain beasiswa kuliah, aku juga dapat apresiasi dari guruku sejumlah uang. Seneng banget hehe.

Jujur temen-temenku sampe gak percaya, termasuk aku. 

Sejak hari itu, aku mulai melupakan segala insecurity dalam diriku. 

Usai kelulusan, aku emang gak berniat dulu untuk lanjut kuliah. Ku pikir kan jadi mahasiswa itu fleksibel, kapan aja kita bisa mau lanjut kuliah. Jadinya aku kerja aja dulu cari uang setelah 12 tahun belajar di sekolah. Aku gap year satu tahun.

Rabu, 01 September 2021

Belum Ada Judul

Masih belum di edit rapi penulisannya makanya gue posting di blog ini aja, biar kalau ada waktu gue mau rapiin naskah ini dan gue posting ke platform tempat nulis cerpen atau novel😁

NOTED: JUDUL BELUM GUE TENTUKAN NUNGGU CERITANYA SELESAI.


PROLOG

"Hai kak, kapan open recruitment HMPS Biologi?" sapa Silvia seramah mungkin yang aslinya Silvia deg-degan setengah mati. Ini pertama kalinya Silvia memberanikan diri berbicara dengan Kendra. 

Lelaki ini sibuk memilih-milih buku dirak, kemudian terhenti saat ada cewek yang berdiri dihadapannya dengan sebuah pertanyaan.

"Kenapa?" jawab Kendra, Silvia jadi merasa malu karena Kendra sama sekali tidak menoleh, dua pasang lensa matanya tetap fokus pada rak buku didepannya. 

"Emmmm itu..enggak.." Silvia tersenyum getir, telapak tangannya terasa dingin. "Cuma mau tanya kapan pendaftaran hmps biologi?"

Kendra akhirnya menegakkan badannya lalu berdiri menghadap Silvia dengan mimik serius. 

"Lo cek instagram hmps biology hasanka. Punya instagram kan?" 

"Pu..nya," jawab Silvia gugup lalu menelan salivanya, entah kenapa melihat Kendra sedekat ini jantung Silvia hampir tidak terkontrol. Kalau ini bukan perpustakaan mungkin Silvia akan pingsan.


Satu

Silvia cewek 19 tahun yang tidak suka memiliki banyak teman, Silvia cuma punya satu sahabat namanya Refa. Nilai Silvia selama sekolah 12 tahun biasa-biasa saja. Silvia dan Refa sama-sama kuliah di Universitas Hasanka mengambil jurusan biologi.

Ini adalah tahun pertama Silvia menjadi seorang mahasiswa. Silvia naksir kakak tingkat bernama Kendra Desmonda, cowok ini seorang aktivis mahasiswa yang lumayan terkenal di kampus. Saat ini Kendra menjabat sebagai ketua organisasi Himpunan mahasiswa Program Studi Biologi. 

Menyukai Kendra bagi Silvia sama seperti ingin menggapai bintang dilangit yang tak akan mungkin ia gapai. Masalahnya adalah Silvia sudah minder duluan kalau melihat Kendra yang penampilannya super modis, tubuh yang atletis, tinggi, wajah tampan, berkulit putih, bahkan setiap hari ke kampus selalu memakai mobil mahal.

Silvia langsung yakin sepertinya bisa mendapatkan hati Kendra adalah sesuatu yang mustahil. Dirinya dengan Kendra satu berbanding seratus. Silvia selalu mikir dia tidak pintar apalagi cantik, tapi kata Refa kalau Silvia itu cantik asalkan Silvia mau merubah penampilan diri. Pertama Silvia itu suka pakai celana jeans besar yang kelihatannya jeans itu punya cowok, kedua kemeja kotak-kotak berukuran besar yang kelihatan sekali tomboynya ditambah Silvia suka mengikat rambut asal-asalan yang penting diikat. 

Silvia memang tidak menonjol dari segi penampilan ataupun akademik tapi satu hal yang bikin kebanyakan orang iri dengan Silvia yaitu jago bela diri, dari SMP sampai SMA selalu ikut ekstrakulikuler karate bahkan pernah ikut turnamen nasional dan juara. Buat cowok-cowok, jangan macem-macem sama Silvia.

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

"Nanti kalo elo udah kasih berkas lo ke hmps, jangan lupa tanya ke mereka siapa yang ngewawancaranya," kata Refa yang sekarang sedang berdiri didepan cermin dengan kedua tangan menggenggam kuas dan mangkuk mini berisi cairan untuk dioles ke kulit wajah.

Silvia menghela napas barat, "Harus gitu? tapi gue malu Ref, elo kenapa gak daftar juga masa gue sendiri."

"Ck. Gue gak demen ama organisasi-organisasian."

"Gimana kalo bukan Kendra yang wawancara, gue kan gabung karena Kendra Ref," Silvia merebahkankan tubuhnya ke kasur sambil tersenyum menatap langit-langit kamarnya.

"Dia kan ketua, ih elo mah nethink mulu kerjaan." Refa melempar satu sachet masker ke Silvia, "Nih elo maskeran dulu gih,"

"Ngga mau ah, males," balas Silvia.

Refa sudah selesai mengoles maskernya diwajah lalu menghampiri Silvia dan mengambil bungkus masker yang dilemparnya tadi. "Gue gak mau tau lo harus maskeran malem ini, gue malem ini nginep tempat lo ya, dan besok pagi elo gak boleh bangun telat."

"Hedeh dasar bawel." Silvia memutar bola matanya.

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Jam sudah menunjukkan pukul 4 shubuh. Silvia tetap tertidur pulas meskipun alarm berbunyi nyaring, Refa sengaja meletakkan jam alarm didekat telinga Silvia.

"Sil, astaga elo ngebo banget sih jadi orang."
Refa menggoyang-goyangkan tubuh Silvia, cewek ini makin erat memeluk guling dan menarik selimutnya.

"Sil, kalo elo gak bangun. Gue siram aer ya, ni udah ditangan gue loh gayungnya," ancam Refa tapi bohong mana ada Refa pegang gayung.

Mendengar Silvia ngomong begitu, dengan acap Silvia bangkit langsung duduk meskipun matanya masih belum melek.

"Iya iya ah," seru Silvia.

"Nih elo mandi gih, jangan lupa luluran terus pake shampo yang waaaangi. Awas yaa kalo engga, gue jitak entar," ancam Refa sambil memperagakan jitakkan dikepalanya.

Silvia kaget bukan main karena dilempar wadah lulur ditangannya. "Ya ampun.......Refaaa!"

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Udara pagi bikin suasana tentram jendela kamar Silvia terbuka memperlihatkan pepohonan yang hijau dan kaca jendelanya berembun. Rumah Silvia bukan terletak di perumahan yang padat.
Pagi ini ada jadwal kuliah jam tujuh mata kuliah Biologi umum setelah itu pukul sembilan pagi Silvia akan ke ruang sekretariat HMPS biologi untuk mengantar berkas sekaligus wawancara anggota baru.

"Ref, ini pakaian siapa? punya elo ya?" tanya Silvia berdiri diambang pintu dengan penampilan rapi seperti biasa pakai jeans oversize dan kemeja kotak-kotak, kali ini berwarna biru.

Refa tengah sibuk merapikan isi tasnya yang berisi make up. "Nah, sini bentaran coba, masih satu setengah jam kan?"

Silvia mengerutkan kening, "Ngga ah."

Sorot mata Refa melotot menatap Silvia, kemudian berdiri menarik lengan Silvia secara paksa.

"Aduh ih mau ngapain?" Silvia terheran-heran dan duduk di atas ranjang.

"Elo siap kan?" tanya Refa tersenyum manis.