Perkuliahan
Punya circle, jago public speaking, aktif organisasi, matching outfit, membangun branding student able on instagram, punya crush, pusing sama tugas bejibun, dll.
2019
Setelah gapyear satu tahun, aku memutuskan daftar kuliah di kampus Negeri. Aku pernah bilang di chapter tulisanku sebelumnya sebenarnya aku punya beasiswa kuliah di kampus swasta D3. Namun aku lebih memilih jalan sebagai mahasiswa S1. Manusia memang sulit ditebak, di beri jalan mudah malah memilih jalan yang kita engga tau itu mudah atau engga. Maksudku, kalo aku milih kalau aku milih kampus swasta itu, aku nggak perlu repot ikut tes ujian dan bayar uang spp selama kuliah.
Aku ikut tes ujian tertulis untuk menentukan aku lulus atau tidak di kampus yang ku pilih ini, ternyata Allah mengizinkanku dan akhirnya aku lolos, aku resmi menjadi mahasiswa kampus Negeri yang ku inginkan.
Kurang lebih 4 tahun aku menjalankan kehidupanku sebagai mahasiswa. Jujur, mentalku di hajar habis2an selama menjadi mahasiswa. Hanya mereka yang mengalami saja yang mengerti bagaimana lika-liku mendapatkan gelar sarjana.
Kalau diceritakan secara lengkap dan detail mungkin tulisanku ini akan sangat panjang dan berchapter2 sesuai masalah yang ku alami apa saja.
***
Covid 19
Bukannya senang bisa kuliah dari rumah, justru aku stress sampai ingin berhenti dan lebih baik aku bekerja cari uang.
Ayahku sakit parah tapi bukan karena covid-19. Ekonomi keluargaku terombang ambing. Aku dan keluargaku berhasil melewati badai itu. Nggak mudah, aku sering nangis diam-diam, aku sempat kerja sambil kuliah, kadang-kadang aku muak sama tugas kuliah yang nggak ada henti-hentinya. Alhamdulillah ekonomi keluargaku mulai membaik lagi berkat doa dan usaha.
Teman ular
Circleku lumayan luas di kampus. Aku punya banyak circle, nggak cuma dilingkup satu prodi tapi aku juga punya circle di organisasi kesenian.
Aku lebih dekat dan banyak menghabiskan waktu sama circle yang satu prodi aja. Jujur, aku males banget nyeritain ini disini, karena ular yang nyakitin aku itu bener-bener bikin aku jengkel+sakit hati sampai mikir kayak, "Kok, bisa sih temen kek gitu jadi temenku? kita deket banget, kenapaa harus seberkhianat itu? kenapaaa?"
Ya Allah, kalau memang aku pernah menyakiti siapapun aku minta maaf karena aku juga bukan manusia sempurna yang lepas dari kesalahan, tapi demi Allah aku ikhlas dan tulus berteman sama siapapun, tapi kenapa Allah uji hidupku lewat teman yang berkhianat dan diam-diam selalu iri sama hidupku bahkan mamfaatin aku. Aku sempat marah dan menyesali sama yang namanya takdir ini. Takdir, Allah mengujiku dengan pertemanan yang menyakitkan.
Sakit banget, andai aku bisa lihat masa depan siapa aja orang yang bakal nyakitin aku, pasti bakal aku hindarin sebisa mungkin. Ini baru dari pertemanan kuliah, masih ada ujian dari Allah lainnya yang bakalan aku ceritain disini. Aku nggak bermaksud membuka luka lama atau dendam. Aku cuma mengingat saja, kalau aku berhasil bertahan di momen menyakitkan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar