Kamis, 26 September 2024

Nicola's World

Welcome to Nicola's World

Menjadi seseorang yang kuat mental dan mampu berdamai sama diri sendiri merupakan kondisi hidup ketika seseorang tersebut sudah terbiasa dengan badai. Layaknya bunga dandelion yang tidak pernah takut dan akan selalu bertumbuh dimanapun ia berada. 

Nicola adalah sosok gadis dewasa yang bertempat tinggal di sebuah kota besar bersama orang tuanya. Roti es krim adalah cemilan favoritenya setelah makan berat seperti nasi dan lauk pauk. Kebiasaan buruk Nicola sering bangun kesiangan dan ketinggalan sholat Shubuh. Dia pernah tidur dengan durasi terlamanya yaitu 12 jam. Menurut Nicola, ketika ia sedang tidak bisa mengatasi permasalahan hidup lebih baik tidur saja.

Jangan ditiru, tidur memang relax tapi terlalu banyak tidurpun juga gak baik.

Nicola punya banyak sekali teman. Belum pernah dalam hidupnya selama 21 tahun bermasalah dengan teman-temannya itu. Punya keluarga harmonis, teman yang baik, dan pendidikan yang lancar. Nicola sangat mensyukuri hal itu. Soal pacar, Nicola tidak terlalu tertarik pacaran tapi bukan berarti "nggak suka laki-laki". 

Kadang-kadang Nicola malas terlibat ke dalam dunia percintaan termasuk permainan hati yang dilakukan oleh cowok-cowok gabut, mereka yang tidak pernah serius mencintai. Itulah kenapa Nicola memilih lebih baik sendiri dulu daripada menghabiskan waktu bersama laki-laki yang tidak serius. Nicola yakin suatu hari ia akan bertemu cinta sejatinya. Seperti yang sudah tertulis di al-Qur'an bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, perempuan baik hanya untuk laki-laki yang baik.

Nicola punya sahabat yang terjalin baik sejak kecil dari TK bernama Ruby. Sempat berpisah jarak ketika SMP dan SMA karena berbeda sekolah juga Ruby pernah bersekolah di kampungnya. Setelah lulus SMA, Ruby kembali lagi ke kota dan kembali sering bertemu dengan Nicola setelah terpisah karena sekolah.

🌸🌸🌸

Semua itu ada masanya, tetapi setiap kejadian selalu ada sebab dan akibat. Jangan berhenti menjadi baik pada siapapun dan paling penting lagi sadar diri jangan berpura-pura baik apalagi memamfaatkan sahabatmu sendiri.

🌸🌸🌸

Kisah Nicola dan Ruby akan aku tulis di blog ini. Mungkin di beberapa chapter berikutnya.









Senin, 23 September 2024

Mahasiswa

Perkuliahan

Punya circle, jago public speaking, aktif organisasi, matching outfit, membangun branding student able on instagram, punya crush, pusing sama tugas bejibun, dll.

2019

Setelah gapyear satu tahun, aku memutuskan daftar kuliah di kampus Negeri. Aku pernah bilang di chapter tulisanku sebelumnya sebenarnya aku punya beasiswa kuliah di kampus swasta D3. Namun aku lebih memilih jalan sebagai mahasiswa S1. Manusia memang sulit ditebak, di beri jalan mudah malah memilih jalan yang kita engga tau itu mudah atau engga. Maksudku, kalo aku milih kalau aku milih kampus swasta itu, aku nggak perlu repot ikut tes ujian dan bayar uang spp selama kuliah.

Aku ikut tes ujian tertulis untuk menentukan aku lulus atau tidak di kampus yang ku pilih ini, ternyata Allah mengizinkanku dan akhirnya aku lolos, aku resmi menjadi mahasiswa kampus  Negeri yang ku inginkan.

Kurang lebih 4 tahun aku menjalankan kehidupanku sebagai mahasiswa. Jujur, mentalku di hajar habis2an selama menjadi mahasiswa. Hanya mereka yang mengalami saja yang mengerti bagaimana lika-liku mendapatkan gelar sarjana.

Kalau diceritakan secara lengkap dan detail mungkin tulisanku ini akan sangat panjang dan berchapter2 sesuai masalah yang ku alami apa saja.

***

Covid 19

Bukannya senang bisa kuliah dari rumah, justru aku stress sampai ingin berhenti dan lebih baik aku bekerja cari uang.

Ayahku sakit parah tapi bukan karena covid-19. Ekonomi keluargaku terombang ambing. Aku dan keluargaku berhasil melewati badai itu. Nggak mudah, aku sering nangis diam-diam, aku sempat kerja sambil kuliah, kadang-kadang aku muak sama tugas kuliah yang nggak ada henti-hentinya. Alhamdulillah ekonomi keluargaku mulai membaik lagi berkat doa dan usaha.

Teman ular

Circleku lumayan luas di kampus. Aku punya banyak circle, nggak cuma dilingkup satu prodi tapi aku juga punya circle di organisasi kesenian.

Aku lebih dekat dan banyak menghabiskan waktu sama circle yang satu prodi aja. Jujur, aku males banget nyeritain ini disini, karena ular yang nyakitin aku itu bener-bener bikin aku jengkel+sakit hati sampai mikir kayak, "Kok, bisa sih temen kek gitu jadi temenku? kita deket banget, kenapaa harus seberkhianat itu? kenapaaa?" 

Ya Allah, kalau memang aku pernah menyakiti siapapun aku minta maaf karena aku juga bukan manusia sempurna yang lepas dari kesalahan, tapi demi Allah aku ikhlas dan tulus berteman sama siapapun, tapi kenapa Allah uji hidupku lewat teman yang berkhianat dan diam-diam selalu iri sama hidupku bahkan mamfaatin aku. Aku sempat marah dan menyesali sama yang namanya takdir ini. Takdir, Allah mengujiku dengan pertemanan yang menyakitkan.

Sakit banget, andai aku bisa lihat masa depan siapa aja orang yang bakal nyakitin aku, pasti bakal aku hindarin sebisa mungkin. Ini baru dari pertemanan kuliah, masih ada ujian dari Allah lainnya yang bakalan aku ceritain disini. Aku nggak bermaksud membuka luka lama atau dendam. Aku cuma mengingat saja, kalau aku berhasil bertahan di momen menyakitkan itu.












Sabtu, 22 April 2023

Mutiara

Pengabaianmu diluar kendaliku 

Namaku tidak pernah ada di dalam hatimu

Di daftar pencarianmu, namaku tak pernah ada disana

Cinta, rindu, sayang.. aku serahkan semua untukmu meski kau tak pernah menyadarinya
Di matamu aku ini hanya sebuah kerikil yang tidak menarik untuk sekedar kamu lihat

Maafkan semua ketidaksempurnaanku
Kaulah yang terlalu sempurna untukku
Mutiara bening tak akan terlihat di air yang jernih
Jika terus saja diabaikan
Bisa jadi mutiara bening itu akan jadi milik orang lain
Dan orang lain itu bukan kamu

Rabu, 29 Maret 2023

Things

Karena gue orangnya bodo amatan dalam segala hal yang menurut gue nggak penting. Gue nggak kepo sama hidup orang lain.

Dalam hidup, gue lebih mengutamakan basic manner. Bagi orang awam, mungkin beberapa dari mereka tidak mengerti apa itu basic manner.

22 tahun gue hidup, banyak karakter yang telah gue temui dari berbagai tempat. Gue lebih percaya pada seseorang yang menunjukkan basic manner daripada gue harus percaya pada penampilan seseorang.

Selasa, 28 Maret 2023

Simpang Tiga, Alam Semesta, Tulisan

Peralihan kalimat pada sebuah makna.


Berkendara seorang diri, kupandangi sisi kiri dan kanan secara bergantian, sebuah tembok dengan berbagai macam cover.

30 menit, tak terasa aku berada di depan dua jalan, belok kiri bukan jalan yang aku ingin untuk saat ini Kemudian jika aku memilih kanan lantas aku tidak ada alasan mengapa aku memilih jalan kanan daripada jalan kiri.

Tapi ini bukan soal simpang tiga.

Matahari tidak peduli seberapa terik dirinya. Bintang peduli pada aku yang kesepian.

Semakin jauh kita melihat di alam semesta,
semakin jauh pula kita melihat kembali ke masa lalu.

Lagi-lagi ini bukan soal masa lalu.

Sekarang lihatlah bintang? Bukankah dia terlalu jauh untuk digapai?

Matahari? Dia bahkan sudah ada jauh sebelum aku lahir.


Rabu, 08 Februari 2023

Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

 "Kamu kira aku bakal terus-terusan ngejar kamu? Seperti yang kamu bilang kalau kamu cuma nganggap aku sebatas sahabat, jadi mulai sekarang aku akan batasi diri aku supaya bisa berhenti suka sama kamu." Mata Laura berkaca-kaca menatap reaksi Billy yang hanya terdiam seribu bahasa. Laki-laki itu ingin meraih tangan Laura tetapi segera di tepis.


"Kamu emang beneran nggak pernah suka sama aku, kan?! kalau kamu diam aja berarti iya." Langit semakin mendung dan sebentar lagi akan turun hujan. Laura mengambil tas selempangnya di kursi halte lalu bergegas menuju angkot yang berhenti tepat didepan mereka.

"Lau.." Billy ingin menahan Laura namun hatinya berat untuk melakukannya. Ia membiarkan perempuan itu pergi. Bersamaan dengan kepergian Laura dari hadapannya, hujan mulai mengguyur deras membuat Billy tak bisa bergerak kemana-mana.

Sebesar apapun rasa cinta Laura pada Billy ternyata selama bertahun-tahun ini hanyalah angin lewat yang keseringan lewat bagi Billy.

Perempuan memang ditakdirkan untuk dikejar bukan mengejar. Tak pernah sadar bahwa jika perempuan cintanya lebih besar daripada sang lelaki maka kemungkinan besar aku tak akan pernah mendapatkan cinta yang sama besarnya. Kalian harus baca ceritaku lebih banyak lagi selain disini.

Billy bukan laki-laki jahat. Dia justru super baik. Akulah yang terlalu menaruh ekspektasi tinggi pada Billy. Gadis pecicilan 4 tahun lalu mulai hari ni berakhir sudah misinya mengejar pangeran Billy.

Ku rasa waktuku.. bukankah sudah banyak diberi bonus. Bisa mengenal Billy adalah moment terbaik dalam hidupku.

Hey, Billy! It's Laura :D

Kamis, 01 Desember 2022

Pearly itu Laura

Cerita fiksi ini aku buat karena terinspirasi sama kisah lucu di masa SMP. Tapi ini tetaplah fiksi, nggak 100% sama seperti di kehidupan aslinya dulu, Laura nggak bener-bener senekat itu deketin Billy, kok. Ya, kali hahaa. Di jaman itu, si cewek yg aku namain Laura ini justru nggak sebar-bar di cerita ini. 

Selamat membaca, fiksi is fiksi hanya untuk menghibur heheee. Salam dari Laura.


 

Laura Pearly.. 

2010

Namaku Laura Pearly, dua hari lalu umurku baru menginjak 17 tahun. Sebenarnya aku gak suka nulis apalagi nyoret-nyoret tentang kehidupanku di buku diary seperti sekarang ini. Tapi demi projek dalam mengejar cinta pangeranku, aku harus membuat semacam laporan dalam bentuk paragraph ke dalam buku diary ini.

Yang ku maksud pangeran itu adalah Billy. Cowok keren yang aku suka dikelas IPA 2. Dia pemain futsal paling most wanted seantero sekolahku.

Berkat anime yang berjudul itazura na kiss yang aku tonton dirumah Abel sepupuku beberapa hari lalu. Aku terinspirasi sama karakter si cewek yang berani ngejar duluan secara terang-terangan.

Kata sahabatku Lilis. Waktu aku ceritain ke dia soal projekku ini, Lilis malah bilang gak masuk akal. Nah, kalau kata Kiara, projekku ini konyol banget.

Apalagi Billy sifatnya dingin gitu kalau sama cewek yang ngga akrab sama dia.

Ah masa bodo, gimanapun caranya aku harus percaya diri. Laura Pearly bakal mematahkan stigma dari siswi-siswi yang bilang kalau cowok most wanted bakal dapet cewek yang gak kalah terkenalnya sama kaya dia. Aku bakal buktiin aku bisa kenal lebih dekat sama sosok Billy dan bisa dapetin hatinya.

Hey Billy, it's Laura!
Dari 0 sampe 100, aku yakin 80% berhasil. Tunggu aku di halaman selanjutnya. Bye! Aku ngantuk.

***

SMA Salmon salah satu SMA swasta yang masuk dalam jajaran SMA favourite di kota ini. Disinilah Laura bersekolah. Sebelumnya kenalan dulu sama Laura and the gang.

Laura anak kelas sebelah Ipa 2, anaknya baik, ramah, kalau lagi ketawa ngakak kadang suka nabok, dia yang paling lemot di antara tiga sohibnya yaitu Kiara sama Lilis.

Punya teman kaya Kiara tuh bikin awet muda, abisnya cewek ini suka bikin lelucon absurd dan gak jarang Laura sama Lilis sering ketawa sampe nangis. Kiara tuh sebelah dua belas sama kaya Laura, gak punya urat malu.

Mereka berani banget godain guru PPL waktu kelas 10, pake bilang "bapak ganteng, jangan jera, ya ngajar di kelas kami" ini kata Laura. Duh bisa-bisanya!

Selanjutnya Lilis. Dibandingkan sama Laura dan Kiara, Lilis tuh kalem, suka baca buku, dia juga rajin ikut eksktrakulikuler salah satunya drumband. Lilis cuman bisa geleng-geleng kepala waktu lihat kelakuan Laura dan Kiara lagi ngecengin kakak kelas berkedok minta tolong ajarin materi pelajaran. "Ew, klise banget!" Kata Lilis, tapi gak didepan mereka dong, bisa-bisa di blacklist dari Laura and the gengs.

***

"Ra, lo mau gak bantuin gue deketin Billy?" tanya Laura sambil menyeruput biskuit coklat ke mulutnya.

"Yakin? Gue denger cowok yang lo taksir itu gak suka sama cewek," cicit Kiara, dia ketawa ampe bunyi 'ngik ngik ngik' bikin Laura mengerutkan kening sampai keriting. "Maksudnya? Gak suka cewek gimana?"

Kiara menghembuskan napasnya lewat mulut sehingga pipinya menggembung sesaat. "Laura, selama ini gue gak pernah denger dia punya pacar, berarti dia GAY!" jawab Kiara menggebu-gebu, matanya membelalak sempurna.

"Masa?" Laura dengan tampang bodoh, mengerucutkan bibirnya sambil berpikir.

Sekarang ini justru televisi yang nonton mereka, Kiara asyik bermain game plants vs Zombie di laptopnya Laura sedangkan Laura sibuk nge-stalking akun facebooknya Billy.

Sebetulnya Laura juga tahu kalau Billy belum pernah terdengar punya pacar atau lagi pdkt sama seseorang sejak kelas 10. Mendengar ucapan Kiara, Laura jadi mikir dua kali pengen ngedeketin Billy.

"Laura, lo serius mau niru Aihara Kotoko?" tanya Kiara memecah keheningan yang hanya di isi oleh suara tv.

"Karna kamu bilang dia GAY, gue jadi takut nih."

Kiara tertawa terbahak-bahak. "Kan, siapa tau La, gue cuma nebak doang," tukas Kiara.

***

Satu hal yang baik untuk memulai pagi hari ini sebelum berangkat sekolah dan upacara yaitu minum susu. Yups kebiasaan Laura dari kecil minum susu, ketimbang makan nasi Laura lebih suka minum susu.

Laura melongok di jendela kelas IPA 1 tapi yang dicari gak kelihatan. Kakinya berjinjit. Kelas Laura itu bersebelahan sama kelasnya Billy.

"Aduh, kok Billy belum kelihatan," lirih Laura sambil nempelin punggung ke dinding.

Kiara tersenyum lebar begitu akhirnya menangkap sosok yang ditungggu Laura sedang berjalan menuju kelasnya. "ITU DIA BESTAI! C'MON!" seru Kiara dengan suara menggelegar sambil menunjuk ke arah Billy, anehnya Laura biasa-biasa aja. Murid-murid yang berlalu lalang geleng-geleng kepala memandang ke arah dua cewek ini.

Bestai adalah bestie.

***

Semakin mendekat, dan tiba di pintu kelasnya sendiri Billy di cegat sama cewek yang ia kenal dari kelas sebelah.

"Apaan, nih?" Alis Billy mengkerut, menatap cewek di hadapannya ini. Cewek ini mesem-mesem, aslinya gugup luar biasa.

"Ssstt-sttt... La, cepet ngomong," cicit Kiara.

"Aku suka sama kamu." Suara Laura pelan hanya Billy yang bisa dengar, cewek ini berjinjit langsung di samping telinganya Billy. Tinggi badan Billy terlalu jauh dari tubuh gemoynya Laura.

Billy ternganga lalu bergeser ke samping dari hadapan Laura."Minum obat, La," ujar Billy sambil berlalu pergi, kini mereka saling membelakangi.

"Bahahaha..." Kiara tertawa nyaring melihat ekspresi manyun Laura di depan kelasnya Billy.

"TERNYATA BENAR ELO GAY!" pekik Laura marah kemudian segera berjalan laju dari kelasnya Billy.

Billy membalik badannya dan kedua kelopak mata Billy bergetar menatap cewek aneh itu, terheran-heran kenapa Laura bisa mengatakan dirinya Gay.

***

Saat jam istirahat pertama dikantin, mendengar cerita Kiara soal Laura yang ditolak mentah-mentah oleh Billy membuat Lilis nggak bisa berhenti ketawa sampai sakit perut. Laura hanya bisa balas dendam makan bakso pakai sambal 3 sendok makan. Apa gak kepedesan tuh?

"Aku udah bilang jangan sok-sok an kaya Kotoko, ini Billy hellow! And you are Laura," ucap Lilis di sela-sela tawanya.

"Billy cowok belok," kata Laura sengit.

"Billy siapa? Gue?" Suara berat ini bagai panah yang langsung menancap di jantungnya Laura.

Sekarang Billy mendekatkan wajahnya tepat di depan Laura. Cewek ini refleks menelan pentolnya yang belum selesai ia kunyah.

Mampus gue! batin Laura.

***

Laura seakan sedang bermimpi karena dapat melihat wajah manis Billy sedekat ini. Lebih parahnya lagi, dua kancing seragamnya Billy kebuka, memperlihatkan kaos putihnya. Ini, sih lebih keren dari aktor korea. Soalnya bisa lihat langsung cowok sekeren Billy. Omoooooo... teriak Laura dalam hati.

Begitu menelan salivanya, Laura bersiap akan menggeser pantatnya. Tatapan Billy sekarang bukan tatapan ramah alias seekor harimau yang siap memakan anak ayam hidup-hidup.

"Dia, kan emang gay," bisik Laura pelan ke arah Kiara, tak terduga Billy mengusap pucuk kepala Laura.

"Lo ngatain gue gay?" ucap Billy lagi dengan nada santai tapi nggak untuk air mukanya yang nyeremin. Rahangnya jelas sekali kalau Billy sedang marah.

Kiara dan Lilis hanya bisa tersenyum getir sekaligus takut, apa yang akan dilakukan Billy terhadap Laura.

Cewek kepang satu ini menahan napasnya, tubuhnya seolah di kunci alias nggak bisa gerak. Billy masih membungkuk dan menatapnya dingin, aduh.. cowok ini nungguin jawabannya Laura.

Billy menegakkan tubuhnya kembali sebelum ia melengos pergi ia kembali menundukkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu ditelinga Laura.

"Gue juga suka sama lo!"

Mata Laura membelalak mencoba mencerna apa yang sudah didengarnya barusan. Sayangnya Billy langsung pergi ke kantin sebelah bersama teman-temannya yang sedari tadi menunggu.

"Aaaaaaaaaaaaaaa!" Laura berteriak sekuat-kuatnya, beberapa murid yang dikantin sampe menoleh ke meja mereka.

"Dia ngomong apaan?" desak Kiara gak sabar pengen tahu apa yang sudah dikatakan oleh Billy.

***

Hari pertama misiku untuk mendapatkan pangeran Billy hampir saja gagal karena
aku mengira dia seorang cowok belok. Diary of me, I just wanna say Imma get his heart!!

Laura menutup buku diarinya, ia sudah sangat-sangat yakin kalau Billy menyukainya balik.

***

Hari kedua.

Ingin mendapatkan sesuatu termasuk hati seseorang nggak semudah membeli tahu bulat di depan gerbang sekolah Salmon. Pagi-pagi Laura berangkat bareng Lilis.

Kali ini ada pemadangan yang membuat Laura melongo. Langkah kakinya terhenti memandang dua murid dari kelas sebelah nampak sedang mengobrol di depan kelas mereka. Masa bodo mereka ngobrolin apa, yang bikin bola mata Laura hampir copot adalah tangan mereka saling bergandengan.

Billy sama Wiwit kok mesra banget, kata Laura dalam hati. Pandangannya masih belum terlepas sedikitpun pada Billy.

Hingga Billy menoleh ke arah Laura yang masih berdiri menatapnya dengan tatapan seperti tidak percaya.

"Laura, ngapain lo disitu?" tanya Billy.

Laura mendekat, Billy langsung melepaskan genggamannya dari tangan Wiwit.

"Mau ngatain gue gay lagi?"

Laura mencebikkan bibirnya. "Lo punya pacar? Kok gue gak pernah denger ya?" ujar Laura tertawa palsu, dengan ekor mata ke arah lain seolah berbicara sendiri.

Billy nggak menjawab pertanyaan Laura yang terkesan sarkas itu. Bahkan Billy dan Laura sekarang tatap-tatapan kayak orang yang kebingungan usai mendengar ucapan Laura itu tadi.

Daripada sakit hati lebih baik sakit gigi. Eh, kok nyanyi. Lanjut, biar bagaimanapun Laura tahu diri sekarang, ia melangkah pergi ke kelasnya dari hadapan Billy dan Wiwit.

Meanwhile Lilis nggak bisa berkata-kata alias speechless bruhh. Si kutu buku ini nggak mau terlibat apa-apa sama projeknya Laura tapi melihat sahabatnya berlari sambil nangis bikin Lilis nggak tega. Dia segera mengejar Laura.

***

Laura mengajak dua sohibnya ke cafe Love Sign hanya untuk menemaninya patah hati. Begitu tahu Billy dan Wiwit ternyata pacaran, hati Laura langsung perih. Sedari tadi makanan yang Laura pesan belum dimakannya sama sekali.

"Jangan nangis lagi dong La, lama-lama gue joget aja, nih disini biar lo ketawa," ucap Kiara setengah bercanda abisnya bosan ngelihat Laura nggak berhenti nangis.

Air mata Laura mengalir deras, "Padahal gue udah berharap banget kalo taktik yang gue pake buat ngedeketin Billy itu bakal berhasil tapi..."

"Aku punya taktik yang lebih berfaedah," potong Lilis cepat.

"Apa?" tanya Laura dengan suara serak.

Sebelum menjawab, Lilis menyeruput satu iris kentang goreng milik Laura lalu menyodorkannya ke mulut Laura.

"Eh eh.." Buru-buru Laura mengatupkan rapat bibirnya tapi Lilis tetap maksa sampai berhasil masuk di mulut Laura.

"Makan dulu, aku nggak mau, ya punya sahabat gitu doang nangis dan nggak mau makan.

Lilis menarik napas panjang sambil menatap Laura yang dramatis ini lalu menghembuskannya secara perlahan. "Kamu harus berhenti berharap sama Billy, okay!?"

Laura memutar bola mata, males-malesan, dia menjawab, "Haduh, bambang!" sungut Laura sebal. Ini bukan taktik tapi tik tik tik bunyi hujan, sama aja bikin Laura nangis lagi harus merelakan Billy.

"Selama janur hijau belum melengkung, lo masih ada kesempatan La, pepet aja terus," Kiara menyemangati, berbanding terbalik dengan Lilis justru Kiara memberi semangat untuk Laura.

Lilis memijit keningnya. "Terserah kalian, deh."


(5 NOVEMBER 2021) TUNGGU KISAH LAURA DI BAB SELANJUTNYA. 

Ente kadang-kadang-_- aku uploadnya baru sekarang di 2022 pas udah mo habis, bayangin!!!!! Mager banget, sayπŸ€£πŸ˜‚

Selasa, 28 Juni 2022

Hujan

Dirimu menyapu semua kegelisahanku

Hadirmu tak pernah kuharapkan
Aku yang pesimis untuk mengharapkan seseorang datang untukku

Kau seperti hujan yang menyiramku saat aku layu
Kau beriku ruang saatku ingin menangis

Hingga hari ini aku mengenangmu sebagai hujan
Kenanglah aku sebagai bunga mataharimu

Kaulah hujanku
Kau beriku ruang saatku ingin menangis

Hingga hari ini aku mengenangmu sebagai hujan
Kenanglah aku sebagai bunga mataharimu


Sabtu, 08 Januari 2022

Friendlier

Tidak ada yang lebih ramah selain kertas kosong. 

Hai kertas kosong, ku beri nama Tong saja, ya? Kertas kosong menjawab, "Baiklah." 

Tong, terima kasih karena kamu ada. Kamu nggak lebih kayak tempat sampah, orang seperti aku beruntung. 

"Aku lebih baik dari teman-temanmu." Kalau Tong bisa berbicara, dia pasti akan mengatakan ini. 

"Keluargamu sekalipun, aku lebih baik!" ucap Tong lagi dengan semangat menggebu-gebu. 

Hari ini aku lagi sedih, Tong. Untung aja kamu ada. Aku bisa memuntahkan semua keluh kesahku tanpa dihakimi.

Minggu, 31 Oktober 2021

Tahun Terakhir Di Masa Putih Abu-Abu

Hujan-hujan gini, laper tapi gak mood keluar kamar, tengah malam dan pikiranku mulai melayang ke masa lalu. So, jadilah tulisan ini😁

Menjelang UN kami seluruh kelas 12 diberi minggu tenang hampir seminggu, kalo gak salah ya.. hehe aku lupa. Waktu itu aku gak terlalu merasa ada beban malah aku santai banget tapi aku tetap belajar kok. Aku buka kembali buku-buku LKS dari kelas 10, aku coba pelajari lagi terutama di mapel matematika. yeah, karena aku tolol kalo soal2 hitung2an, kecuali ngitung duitπŸ˜­πŸ˜‚

Aku heran dan.... kok bisa ya? Biasanya kan anak-anak SMA kalau udah hampir di ujung perjalanan putih abu-abunya pasti mereka sibuk daftar SBMPTN atau SNMPTN. Atau akunya yang kurang memperhatikan waktu itu karena dikelasku adem ayem gak ada yang bahas soal itu. Tapi.. ya sudahlah dari pengamatanku waktu baru-baru lulus SMA cuma beberapa orang aja yang lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. 

Aku punya geng waktu SMA, isinya ada 6 orang. Aku bilang "geng" karena kita sering berenam dari kelas 10. Entah kenapa pas udah kelas 12 aku merasa geng kami mulai berjarak gak kaya waktu tahun pertama dan kedua. Aku sih "ya udahlah."

Singkat cerita bersamaan dengan tahun terakhirku di SMA, waktu itu sedang hits banget film remaja SMA "Dilan 1990". Kala itu, aku pengen banget ada yang ajak aku nonton ke bioskop. Tapi gak ada yang ajak hahahahaa.

Di tahun itu juga aku mengalami yang namanya insecure+anxiety. Jujur ini aku simpen rapat-rapat tentang kondisiku dari temen-temenku.

Aku mendadak suka diam tanpa sebab, ngelamun, kadang suka awkward sendiri kalau lagi ngumpul. Mungkin ini kali ya makanya mereka jadi kaya menjauh gitu dari aku, sebenarnya bukan menjauh sih tapi lebih kaya "Ini si Fitri kenapa sih?"

Aku juga bingung, aku juga pernah di bully sama salah satu cowok dikelasku sampe nangis juga waktu itu. Mereka bilang dia bercanda tapi tetap aja konteksnya membully. Temen-temenku ingat gak ya soal ini?

Pernah juga aku mendadak gak mau ikut foto bareng sama temen-temenku yang aku bilang "kami selalu berenam" tadi. Mereka ajak aku foto bersama, kebetulan waktu itu pakai baju jurusan kalau tiap hari kamis, entah kenapa aku merasa insecure berat sama mereka. 

Di kepalaku selalu lengket ama kalimat "Mereka cantik, sedangkan aku engga secantik dan sekeren mereka". Salah satu temenku marah gara-gara aku gak mau diajak foto. Aku yakin banget, mereka kala itu mikir kalo aku ini rese banget jadi orang. Perasaan cemas dan insecure aku saat itu menjadikan diriku kayak "Ini bukan fitri". 

Sedih banget sebenarnya, kok aku jadi gini ya? 

 Kembali lagi saat menjelang UN, aku mau berusaha menjadi diriku yang baru lagi. Aku mau mengembalikan "Fitri yang cerah" kaya waktu kelas 10 sama kelas 11. Karena UN sebentar lagi aku harus melepas semua beban dipikiranku dan aku bongkar lagi lemari bukuku.

Inilah caraku mengembalikan diriku yang dulu, aku bertekad ingin keluar dari SMA dengan membawa kebanggaan untuk diriku sendiri. Alhamdulillah, Allah kasih hadiah, aku mendapat nilai UN tertinggi urutan ke 5 waktu itu dan dapat beasiswa untuk lanjut kuliah ke salah satu kampus swasta dikotaku. Selain beasiswa kuliah, aku juga dapat apresiasi dari guruku sejumlah uang. Seneng banget hehe.

Jujur temen-temenku sampe gak percaya, termasuk aku. 

Sejak hari itu, aku mulai melupakan segala insecurity dalam diriku. 

Usai kelulusan, aku emang gak berniat dulu untuk lanjut kuliah. Ku pikir kan jadi mahasiswa itu fleksibel, kapan aja kita bisa mau lanjut kuliah. Jadinya aku kerja aja dulu cari uang setelah 12 tahun belajar di sekolah. Aku gap year satu tahun.

Rabu, 01 September 2021

Belum Ada Judul

Masih belum di edit rapi penulisannya makanya gue posting di blog ini aja, biar kalau ada waktu gue mau rapiin naskah ini dan gue posting ke platform tempat nulis cerpen atau novel😁

NOTED: JUDUL BELUM GUE TENTUKAN NUNGGU CERITANYA SELESAI.


PROLOG

"Hai kak, kapan open recruitment HMPS Biologi?" sapa Silvia seramah mungkin yang aslinya Silvia deg-degan setengah mati. Ini pertama kalinya Silvia memberanikan diri berbicara dengan Kendra. 

Lelaki ini sibuk memilih-milih buku dirak, kemudian terhenti saat ada cewek yang berdiri dihadapannya dengan sebuah pertanyaan.

"Kenapa?" jawab Kendra, Silvia jadi merasa malu karena Kendra sama sekali tidak menoleh, dua pasang lensa matanya tetap fokus pada rak buku didepannya. 

"Emmmm itu..enggak.." Silvia tersenyum getir, telapak tangannya terasa dingin. "Cuma mau tanya kapan pendaftaran hmps biologi?"

Kendra akhirnya menegakkan badannya lalu berdiri menghadap Silvia dengan mimik serius. 

"Lo cek instagram hmps biology hasanka. Punya instagram kan?" 

"Pu..nya," jawab Silvia gugup lalu menelan salivanya, entah kenapa melihat Kendra sedekat ini jantung Silvia hampir tidak terkontrol. Kalau ini bukan perpustakaan mungkin Silvia akan pingsan.


Satu

Silvia cewek 19 tahun yang tidak suka memiliki banyak teman, Silvia cuma punya satu sahabat namanya Refa. Nilai Silvia selama sekolah 12 tahun biasa-biasa saja. Silvia dan Refa sama-sama kuliah di Universitas Hasanka mengambil jurusan biologi.

Ini adalah tahun pertama Silvia menjadi seorang mahasiswa. Silvia naksir kakak tingkat bernama Kendra Desmonda, cowok ini seorang aktivis mahasiswa yang lumayan terkenal di kampus. Saat ini Kendra menjabat sebagai ketua organisasi Himpunan mahasiswa Program Studi Biologi. 

Menyukai Kendra bagi Silvia sama seperti ingin menggapai bintang dilangit yang tak akan mungkin ia gapai. Masalahnya adalah Silvia sudah minder duluan kalau melihat Kendra yang penampilannya super modis, tubuh yang atletis, tinggi, wajah tampan, berkulit putih, bahkan setiap hari ke kampus selalu memakai mobil mahal.

Silvia langsung yakin sepertinya bisa mendapatkan hati Kendra adalah sesuatu yang mustahil. Dirinya dengan Kendra satu berbanding seratus. Silvia selalu mikir dia tidak pintar apalagi cantik, tapi kata Refa kalau Silvia itu cantik asalkan Silvia mau merubah penampilan diri. Pertama Silvia itu suka pakai celana jeans besar yang kelihatannya jeans itu punya cowok, kedua kemeja kotak-kotak berukuran besar yang kelihatan sekali tomboynya ditambah Silvia suka mengikat rambut asal-asalan yang penting diikat. 

Silvia memang tidak menonjol dari segi penampilan ataupun akademik tapi satu hal yang bikin kebanyakan orang iri dengan Silvia yaitu jago bela diri, dari SMP sampai SMA selalu ikut ekstrakulikuler karate bahkan pernah ikut turnamen nasional dan juara. Buat cowok-cowok, jangan macem-macem sama Silvia.

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

"Nanti kalo elo udah kasih berkas lo ke hmps, jangan lupa tanya ke mereka siapa yang ngewawancaranya," kata Refa yang sekarang sedang berdiri didepan cermin dengan kedua tangan menggenggam kuas dan mangkuk mini berisi cairan untuk dioles ke kulit wajah.

Silvia menghela napas barat, "Harus gitu? tapi gue malu Ref, elo kenapa gak daftar juga masa gue sendiri."

"Ck. Gue gak demen ama organisasi-organisasian."

"Gimana kalo bukan Kendra yang wawancara, gue kan gabung karena Kendra Ref," Silvia merebahkankan tubuhnya ke kasur sambil tersenyum menatap langit-langit kamarnya.

"Dia kan ketua, ih elo mah nethink mulu kerjaan." Refa melempar satu sachet masker ke Silvia, "Nih elo maskeran dulu gih,"

"Ngga mau ah, males," balas Silvia.

Refa sudah selesai mengoles maskernya diwajah lalu menghampiri Silvia dan mengambil bungkus masker yang dilemparnya tadi. "Gue gak mau tau lo harus maskeran malem ini, gue malem ini nginep tempat lo ya, dan besok pagi elo gak boleh bangun telat."

"Hedeh dasar bawel." Silvia memutar bola matanya.

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Jam sudah menunjukkan pukul 4 shubuh. Silvia tetap tertidur pulas meskipun alarm berbunyi nyaring, Refa sengaja meletakkan jam alarm didekat telinga Silvia.

"Sil, astaga elo ngebo banget sih jadi orang."
Refa menggoyang-goyangkan tubuh Silvia, cewek ini makin erat memeluk guling dan menarik selimutnya.

"Sil, kalo elo gak bangun. Gue siram aer ya, ni udah ditangan gue loh gayungnya," ancam Refa tapi bohong mana ada Refa pegang gayung.

Mendengar Silvia ngomong begitu, dengan acap Silvia bangkit langsung duduk meskipun matanya masih belum melek.

"Iya iya ah," seru Silvia.

"Nih elo mandi gih, jangan lupa luluran terus pake shampo yang waaaangi. Awas yaa kalo engga, gue jitak entar," ancam Refa sambil memperagakan jitakkan dikepalanya.

Silvia kaget bukan main karena dilempar wadah lulur ditangannya. "Ya ampun.......Refaaa!"

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Udara pagi bikin suasana tentram jendela kamar Silvia terbuka memperlihatkan pepohonan yang hijau dan kaca jendelanya berembun. Rumah Silvia bukan terletak di perumahan yang padat.
Pagi ini ada jadwal kuliah jam tujuh mata kuliah Biologi umum setelah itu pukul sembilan pagi Silvia akan ke ruang sekretariat HMPS biologi untuk mengantar berkas sekaligus wawancara anggota baru.

"Ref, ini pakaian siapa? punya elo ya?" tanya Silvia berdiri diambang pintu dengan penampilan rapi seperti biasa pakai jeans oversize dan kemeja kotak-kotak, kali ini berwarna biru.

Refa tengah sibuk merapikan isi tasnya yang berisi make up. "Nah, sini bentaran coba, masih satu setengah jam kan?"

Silvia mengerutkan kening, "Ngga ah."

Sorot mata Refa melotot menatap Silvia, kemudian berdiri menarik lengan Silvia secara paksa.

"Aduh ih mau ngapain?" Silvia terheran-heran dan duduk di atas ranjang.

"Elo siap kan?" tanya Refa tersenyum manis.

Jumat, 13 November 2020

Daily Note

Kepalaku kalau malam hari suka banyak mikir.
Kenapa ya aku udah mau 20 tahun tapi masih aja makan mie instan pake nasi? Padahal kan bisa bikin perut buncit.
Kenapa ya aku masih jomblo? Padahal kan banyak yang naksir aku tapi aku nya gak naksir mereka.

Kapan ya aku bisa ngendarain motor gigi ? Suka malu sama anak kecil yang malah udah jago ngebut2an di komplek rumahku.
Kok bisa cewe cewe pada cantik sedangkan aku manis. Kalau gak setuju aku manis ya sudah ini pendapatku karena orang lain tidak bilang aku manis maka setidaknya aku yang mengatakan bahwa aku manis.
Sampai sekarang aku masih bingung kenapa aku suka bingung.

Ah repot banget kata dia ( dia = kata hatiku ) kenapa aku nulis ini tapi pikiranku bilang " bodo amat " .
Random sekali, apapun yang aku pikirkan tetap saja akan terus aku pikirkan sampai aku tertidur dan bermimpi. Besoknya aku terbangun alhamdulillah aku masih di beri nafas. Setelah sholat shubuh biasanya aku keluar dan melihat langit yang masih gelap . Masih ada kelap kelip cahaya. Benda langit. Aku tidak begitu mengerti ilmu astronomi. Walaupun begitu aku tahu, benda langit yang ku lihat itu hanyalah masa lalu. Ia memancarkan sinarnya dari jarak 2 juta tahun lalu. Bayangkan. Sangat jauh kan. Maka itulah tadi bahwa itu adalah ilusi cahaya.

" lemparan batu batu dari orang lain ke kita jadikanlah batu itu sebagai bahan untuk membangun sebuah bangunan yang tinggi, kalau di biarin kan mubazir kita yang repot ntar "

Kamis, 12 November 2020

Daily note



Kesepian jenis apa yang menyenangkan?

Aku coba gali apa akar dari perasaan kesepian ini, mengapa aku bilang kesepian gak ada yang menyenangkan ?  
Di antara pertemanan yang ada aku hanyalah pemeran pendukung. Kalau kamu tanya pacarku mana? 
Jelas dari awal tidak akan menulis ini. Doain aku yah segera punya pacar yang bakal jadi suami aku hehe.
 
Terkadang aku malu untuk cerita tentang apa yang ku rasakan ke orang tuaku.  
Di kamarku yang sejuk dan nyaman dengan kipas angin yang tidak pernah ku matikan setiap hari .
Dengan perasaan yang hampa ini.
Semoga aku tidak selalu berlarut-larut dalam kehampaan. It's called feeling a blue.
Khawatir akan membawa keadaan mental yang tidak baik.
Ku putuskan aku akan belajar menuangkan perasaan ke dalam tulisan. Meskipun aku bukan orang yang pandai merangkai kata-kata.
Maka dari itu aku juga bisa belajar mendengarkan kata hatiku dan menulisnya dengan sejujur-jujurnya.