Cerita fiksi ini aku buat karena terinspirasi sama kisah lucu di masa SMP. Tapi ini tetaplah fiksi, nggak 100% sama seperti di kehidupan aslinya dulu, Laura nggak bener-bener senekat itu deketin Billy, kok. Ya, kali hahaa. Di jaman itu, si cewek yg aku namain Laura ini justru nggak sebar-bar di cerita ini.
Selamat membaca, fiksi is fiksi hanya untuk menghibur heheee. Salam dari Laura.
Laura Pearly..
2010
Namaku Laura Pearly, dua hari lalu umurku baru menginjak 17 tahun. Sebenarnya aku gak suka nulis apalagi nyoret-nyoret tentang kehidupanku di buku diary seperti sekarang ini. Tapi demi projek dalam mengejar cinta pangeranku, aku harus membuat semacam laporan dalam bentuk paragraph ke dalam buku diary ini.
Yang ku maksud pangeran itu adalah Billy. Cowok keren yang aku suka dikelas IPA 2. Dia pemain futsal paling most wanted seantero sekolahku.
Berkat anime yang berjudul itazura na kiss yang aku tonton dirumah Abel sepupuku beberapa hari lalu. Aku terinspirasi sama karakter si cewek yang berani ngejar duluan secara terang-terangan.
Kata sahabatku Lilis. Waktu aku ceritain ke dia soal projekku ini, Lilis malah bilang gak masuk akal. Nah, kalau kata Kiara, projekku ini konyol banget.
Apalagi Billy sifatnya dingin gitu kalau sama cewek yang ngga akrab sama dia.
Ah masa bodo, gimanapun caranya aku harus percaya diri. Laura Pearly bakal mematahkan stigma dari siswi-siswi yang bilang kalau cowok most wanted bakal dapet cewek yang gak kalah terkenalnya sama kaya dia. Aku bakal buktiin aku bisa kenal lebih dekat sama sosok Billy dan bisa dapetin hatinya.
Hey Billy, it's Laura!
Dari 0 sampe 100, aku yakin 80% berhasil. Tunggu aku di halaman selanjutnya. Bye! Aku ngantuk.
***
SMA Salmon salah satu SMA swasta yang masuk dalam jajaran SMA favourite di kota ini. Disinilah Laura bersekolah. Sebelumnya kenalan dulu sama Laura and the gang.
Laura anak kelas sebelah Ipa 2, anaknya baik, ramah, kalau lagi ketawa ngakak kadang suka nabok, dia yang paling lemot di antara tiga sohibnya yaitu Kiara sama Lilis.
Punya teman kaya Kiara tuh bikin awet muda, abisnya cewek ini suka bikin lelucon absurd dan gak jarang Laura sama Lilis sering ketawa sampe nangis. Kiara tuh sebelah dua belas sama kaya Laura, gak punya urat malu.
Mereka berani banget godain guru PPL waktu kelas 10, pake bilang "bapak ganteng, jangan jera, ya ngajar di kelas kami" ini kata Laura. Duh bisa-bisanya!
Selanjutnya Lilis. Dibandingkan sama Laura dan Kiara, Lilis tuh kalem, suka baca buku, dia juga rajin ikut eksktrakulikuler salah satunya drumband. Lilis cuman bisa geleng-geleng kepala waktu lihat kelakuan Laura dan Kiara lagi ngecengin kakak kelas berkedok minta tolong ajarin materi pelajaran. "Ew, klise banget!" Kata Lilis, tapi gak didepan mereka dong, bisa-bisa di blacklist dari Laura and the gengs.
***
"Ra, lo mau gak bantuin gue deketin Billy?" tanya Laura sambil menyeruput biskuit coklat ke mulutnya.
"Yakin? Gue denger cowok yang lo taksir itu gak suka sama cewek," cicit Kiara, dia ketawa ampe bunyi 'ngik ngik ngik' bikin Laura mengerutkan kening sampai keriting. "Maksudnya? Gak suka cewek gimana?"
Kiara menghembuskan napasnya lewat mulut sehingga pipinya menggembung sesaat. "Laura, selama ini gue gak pernah denger dia punya pacar, berarti dia GAY!" jawab Kiara menggebu-gebu, matanya membelalak sempurna.
"Masa?" Laura dengan tampang bodoh, mengerucutkan bibirnya sambil berpikir.
Sekarang ini justru televisi yang nonton mereka, Kiara asyik bermain game plants vs Zombie di laptopnya Laura sedangkan Laura sibuk nge-stalking akun facebooknya Billy.
Sebetulnya Laura juga tahu kalau Billy belum pernah terdengar punya pacar atau lagi pdkt sama seseorang sejak kelas 10. Mendengar ucapan Kiara, Laura jadi mikir dua kali pengen ngedeketin Billy.
"Laura, lo serius mau niru Aihara Kotoko?" tanya Kiara memecah keheningan yang hanya di isi oleh suara tv.
"Karna kamu bilang dia GAY, gue jadi takut nih."
Kiara tertawa terbahak-bahak. "Kan, siapa tau La, gue cuma nebak doang," tukas Kiara.
***
Satu hal yang baik untuk memulai pagi hari ini sebelum berangkat sekolah dan upacara yaitu minum susu. Yups kebiasaan Laura dari kecil minum susu, ketimbang makan nasi Laura lebih suka minum susu.
Laura melongok di jendela kelas IPA 1 tapi yang dicari gak kelihatan. Kakinya berjinjit. Kelas Laura itu bersebelahan sama kelasnya Billy.
"Aduh, kok Billy belum kelihatan," lirih Laura sambil nempelin punggung ke dinding.
Kiara tersenyum lebar begitu akhirnya menangkap sosok yang ditungggu Laura sedang berjalan menuju kelasnya. "ITU DIA BESTAI! C'MON!" seru Kiara dengan suara menggelegar sambil menunjuk ke arah Billy, anehnya Laura biasa-biasa aja. Murid-murid yang berlalu lalang geleng-geleng kepala memandang ke arah dua cewek ini.
Bestai adalah bestie.
***
Semakin mendekat, dan tiba di pintu kelasnya sendiri Billy di cegat sama cewek yang ia kenal dari kelas sebelah.
"Apaan, nih?" Alis Billy mengkerut, menatap cewek di hadapannya ini. Cewek ini mesem-mesem, aslinya gugup luar biasa.
"Ssstt-sttt... La, cepet ngomong," cicit Kiara.
"Aku suka sama kamu." Suara Laura pelan hanya Billy yang bisa dengar, cewek ini berjinjit langsung di samping telinganya Billy. Tinggi badan Billy terlalu jauh dari tubuh gemoynya Laura.
Billy ternganga lalu bergeser ke samping dari hadapan Laura."Minum obat, La," ujar Billy sambil berlalu pergi, kini mereka saling membelakangi.
"Bahahaha..." Kiara tertawa nyaring melihat ekspresi manyun Laura di depan kelasnya Billy.
"TERNYATA BENAR ELO GAY!" pekik Laura marah kemudian segera berjalan laju dari kelasnya Billy.
Billy membalik badannya dan kedua kelopak mata Billy bergetar menatap cewek aneh itu, terheran-heran kenapa Laura bisa mengatakan dirinya Gay.
***
Saat jam istirahat pertama dikantin, mendengar cerita Kiara soal Laura yang ditolak mentah-mentah oleh Billy membuat Lilis nggak bisa berhenti ketawa sampai sakit perut. Laura hanya bisa balas dendam makan bakso pakai sambal 3 sendok makan. Apa gak kepedesan tuh?
"Aku udah bilang jangan sok-sok an kaya Kotoko, ini Billy hellow! And you are Laura," ucap Lilis di sela-sela tawanya.
"Billy cowok belok," kata Laura sengit.
"Billy siapa? Gue?" Suara berat ini bagai panah yang langsung menancap di jantungnya Laura.
Sekarang Billy mendekatkan wajahnya tepat di depan Laura. Cewek ini refleks menelan pentolnya yang belum selesai ia kunyah.
Mampus gue! batin Laura.
***
Laura seakan sedang bermimpi karena dapat melihat wajah manis Billy sedekat ini. Lebih parahnya lagi, dua kancing seragamnya Billy kebuka, memperlihatkan kaos putihnya. Ini, sih lebih keren dari aktor korea. Soalnya bisa lihat langsung cowok sekeren Billy. Omoooooo... teriak Laura dalam hati.
Begitu menelan salivanya, Laura bersiap akan menggeser pantatnya. Tatapan Billy sekarang bukan tatapan ramah alias seekor harimau yang siap memakan anak ayam hidup-hidup.
"Dia, kan emang gay," bisik Laura pelan ke arah Kiara, tak terduga Billy mengusap pucuk kepala Laura.
"Lo ngatain gue gay?" ucap Billy lagi dengan nada santai tapi nggak untuk air mukanya yang nyeremin. Rahangnya jelas sekali kalau Billy sedang marah.
Kiara dan Lilis hanya bisa tersenyum getir sekaligus takut, apa yang akan dilakukan Billy terhadap Laura.
Cewek kepang satu ini menahan napasnya, tubuhnya seolah di kunci alias nggak bisa gerak. Billy masih membungkuk dan menatapnya dingin, aduh.. cowok ini nungguin jawabannya Laura.
Billy menegakkan tubuhnya kembali sebelum ia melengos pergi ia kembali menundukkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu ditelinga Laura.
"Gue juga suka sama lo!"
Mata Laura membelalak mencoba mencerna apa yang sudah didengarnya barusan. Sayangnya Billy langsung pergi ke kantin sebelah bersama teman-temannya yang sedari tadi menunggu.
"Aaaaaaaaaaaaaaa!" Laura berteriak sekuat-kuatnya, beberapa murid yang dikantin sampe menoleh ke meja mereka.
"Dia ngomong apaan?" desak Kiara gak sabar pengen tahu apa yang sudah dikatakan oleh Billy.
***
Hari pertama misiku untuk mendapatkan pangeran Billy hampir saja gagal karena
aku mengira dia seorang cowok belok. Diary of me, I just wanna say Imma get his heart!!
Laura menutup buku diarinya, ia sudah sangat-sangat yakin kalau Billy menyukainya balik.
***
Hari kedua.
Ingin mendapatkan sesuatu termasuk hati seseorang nggak semudah membeli tahu bulat di depan gerbang sekolah Salmon. Pagi-pagi Laura berangkat bareng Lilis.
Kali ini ada pemadangan yang membuat Laura melongo. Langkah kakinya terhenti memandang dua murid dari kelas sebelah nampak sedang mengobrol di depan kelas mereka. Masa bodo mereka ngobrolin apa, yang bikin bola mata Laura hampir copot adalah tangan mereka saling bergandengan.
Billy sama Wiwit kok mesra banget, kata Laura dalam hati. Pandangannya masih belum terlepas sedikitpun pada Billy.
Hingga Billy menoleh ke arah Laura yang masih berdiri menatapnya dengan tatapan seperti tidak percaya.
"Laura, ngapain lo disitu?" tanya Billy.
Laura mendekat, Billy langsung melepaskan genggamannya dari tangan Wiwit.
"Mau ngatain gue gay lagi?"
Laura mencebikkan bibirnya. "Lo punya pacar? Kok gue gak pernah denger ya?" ujar Laura tertawa palsu, dengan ekor mata ke arah lain seolah berbicara sendiri.
Billy nggak menjawab pertanyaan Laura yang terkesan sarkas itu. Bahkan Billy dan Laura sekarang tatap-tatapan kayak orang yang kebingungan usai mendengar ucapan Laura itu tadi.
Daripada sakit hati lebih baik sakit gigi. Eh, kok nyanyi. Lanjut, biar bagaimanapun Laura tahu diri sekarang, ia melangkah pergi ke kelasnya dari hadapan Billy dan Wiwit.
Meanwhile Lilis nggak bisa berkata-kata alias speechless bruhh. Si kutu buku ini nggak mau terlibat apa-apa sama projeknya Laura tapi melihat sahabatnya berlari sambil nangis bikin Lilis nggak tega. Dia segera mengejar Laura.
***
Laura mengajak dua sohibnya ke cafe Love Sign hanya untuk menemaninya patah hati. Begitu tahu Billy dan Wiwit ternyata pacaran, hati Laura langsung perih. Sedari tadi makanan yang Laura pesan belum dimakannya sama sekali.
"Jangan nangis lagi dong La, lama-lama gue joget aja, nih disini biar lo ketawa," ucap Kiara setengah bercanda abisnya bosan ngelihat Laura nggak berhenti nangis.
Air mata Laura mengalir deras, "Padahal gue udah berharap banget kalo taktik yang gue pake buat ngedeketin Billy itu bakal berhasil tapi..."
"Aku punya taktik yang lebih berfaedah," potong Lilis cepat.
"Apa?" tanya Laura dengan suara serak.
Sebelum menjawab, Lilis menyeruput satu iris kentang goreng milik Laura lalu menyodorkannya ke mulut Laura.
"Eh eh.." Buru-buru Laura mengatupkan rapat bibirnya tapi Lilis tetap maksa sampai berhasil masuk di mulut Laura.
"Makan dulu, aku nggak mau, ya punya sahabat gitu doang nangis dan nggak mau makan.
Lilis menarik napas panjang sambil menatap Laura yang dramatis ini lalu menghembuskannya secara perlahan. "Kamu harus berhenti berharap sama Billy, okay!?"
Laura memutar bola mata, males-malesan, dia menjawab, "Haduh, bambang!" sungut Laura sebal. Ini bukan taktik tapi tik tik tik bunyi hujan, sama aja bikin Laura nangis lagi harus merelakan Billy.
"Selama janur hijau belum melengkung, lo masih ada kesempatan La, pepet aja terus," Kiara menyemangati, berbanding terbalik dengan Lilis justru Kiara memberi semangat untuk Laura.
Lilis memijit keningnya. "Terserah kalian, deh."
(5 NOVEMBER 2021) TUNGGU KISAH LAURA DI BAB SELANJUTNYA.
Ente kadang-kadang-_- aku uploadnya baru sekarang di 2022 pas udah mo habis, bayangin!!!!! Mager banget, say🤣😂
Tidak ada komentar:
Posting Komentar